Dari Ketidakpastian ke Harapan Baru: Perjalanan Dariel Menemukan Arah Lewat MBG

Bogor — Pagi di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan Silma 2 dimulai jauh sebelum banyak orang terbangun. Di tengah ritme kerja yang cepat dan teratur, Muhammad Dariel Syahrul Ramadhan menjalani perannya seperti biasa.

Namun, di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, ada perjalanan panjang yang membawanya sampai ke titik ini, perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi penuh proses.

Pemuda 24 tahun asal Megamendung itu pernah berada dalam fase sulit. Setelah berhenti bekerja di sebuah klinik, ia harus menghadapi masa tanpa pekerjaan yang cukup panjang.

“Saya sempat nganggur kurang lebih satu setengah tahun. Waktu itu memang sulit dapat pekerjaan,” ujarnya.

Hari-harinya diisi dengan mencari peluang, berpindah dari satu harapan ke harapan lain yang belum tentu berujung hasil. Situasi itu tidak mudah, tetapi Dariel memilih untuk tidak berhenti melangkah.

Di tengah ketidakpastian, ia mengambil keputusan penting: melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Karena kondisi itu, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Jakarta Timur, di Universitas Saintek Muhammadiyah,” katanya.

Keputusan itu menjadi cara baginya untuk membuka kemungkinan baru. Namun, di saat yang sama, ia tetap membutuhkan pekerjaan untuk menopang langkahnya.

Kesempatan itu datang dari lingkungan terdekat. Informasi mengenai lowongan di dapur MBG Jogjogan Silma 2 membuka pintu yang sebelumnya tidak ia bayangkan.

Tanpa banyak pertimbangan, ia langsung melamar.

“Waktu dapat info, saya langsung coba. Alhamdulillah diterima,” ujarnya.

Sejak saat itu, hidupnya mulai bergerak kembali. Dari yang sebelumnya berada dalam ketidakpastian, kini ia memiliki arah, bekerja sekaligus menempuh pendidikan.

Menjalani dua peran bukan hal yang mudah. Ia harus membagi waktu antara ritme dapur yang menuntut ketepatan dan jadwal kuliah di akhir pekan.

“Sekarang saya kuliah sambil bekerja. Ambil kelas karyawan, jadi Sabtu-Minggu. Kalau ada bentrok, saya menyesuaikan,” jelasnya.

Di balik kesibukan itu, ada dorongan yang lebih dalam. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Dariel menyadari tanggung jawabnya dalam keluarga.

“Kalau orang tua butuh dan saya ada, saya bantu. Saling membantu saja,” katanya.

Kehidupan di rumah pun diwarnai cerita-cerita sederhana. Dua adiknya yang masih sekolah juga menjadi penerima manfaat MBG, meski dari dapur yang berbeda.

Percakapan ringan sering terjadi, tentang menu makanan yang mereka terima setiap hari.

“Kadang mereka tanya, ‘Aa MBG-nya apa hari ini?’ Terus kita saling cerita,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Dariel, pengalaman ini menghadirkan makna yang lebih luas. Ia tidak hanya bekerja di dapur, tetapi juga melihat langsung bagaimana program tersebut hadir dalam kehidupan keluarganya.

Perlahan, ia menyadari bahwa setiap langkah kecil yang ia ambil membawa perubahan. Dari fase tanpa pekerjaan, kini ia kembali aktif, belajar, dan bekerja dalam waktu yang bersamaan.

Ia pun berharap program yang menjadi bagian dari perjalanannya ini dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak orang.

“Program ini sangat membantu, terutama buat orang-orang seperti saya yang sempat ada di posisi sulit. Dari yang sebelumnya nggak punya pekerjaan, sekarang bisa kerja lagi, bahkan sambil lanjut kuliah,” ujarnya.

“Semoga program ini terus berlanjut. Karena manfaatnya bukan hanya untuk penerima makanannya, tapi juga untuk kami yang bekerja di dalamnya. Banyak yang terbantu, banyak juga yang bisa mulai lagi dari awal,” lanjutnya.

Bagi Dariel, dapur SPPG bukan sekadar tempat bekerja.

Ia adalah titik balik, tempat di mana langkah yang sempat terhenti, perlahan menemukan arah kembali.

 

Biro Hukum dan Humas

Badan Gizi Nasional

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *