Bogor — Uap hangat mengepul dari deretan mesin penanak nasi di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan. Aroma nasi yang baru matang memenuhi ruangan, menandai dimulainya satu hari yang panjang untuk memastikan ratusan anak menerima makanan bergizi.
Di tengah ritme dapur yang nyaris tak pernah berhenti itu, Prima (39) berdiri di bagiannya, Nasi. Tugas yang terdengar sederhana, namun menjadi fondasi dari setiap porsi yang disajikan.
“Kalau bagian nasi, saya yang tanggung jawab. Mau nasi putih, nasi daun jeruk, atau nasi lainnya,” ujarnya.
Setiap hari, ia mengolah sekitar 180 hingga 200 kilogram beras. Jumlah besar itu diproses dengan standar kebersihan yang ketat, mulai dari pencucian hingga pemasakan yang seluruhnya menggunakan mesin.
“Semua pakai mesin, jadi lebih bersih. Nggak pakai tangan langsung,” katanya.
Sudah sekitar lima bulan Prima bekerja di dapur MBG Jogjogan. Sebelumnya, ia menghabiskan lima tahun di dunia perhotelan. Ketika aktivitas hotel menurun, dapur MBG menjadi ruang baru bagi dirinya dan juga rekan-rekan dengan latar belakang serupa.
“Di sini hampir semua dari kitchen hotel. Jadi sudah terbiasa, tinggal menyesuaikan saja,” ujarnya.
Namun bagi Prima, pekerjaan ini tidak berhenti sebagai rutinitas profesional. Ada dimensi personal yang membuat setiap proses dijalani dengan lebih hati-hati. Dua anaknya juga menjadi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Jadi lebih hati-hati. Karena kita masak juga untuk anak-anak, termasuk anak saya,” katanya.
Dampaknya ia rasakan langsung di rumah. Salah satu anaknya yang sebelumnya sulit makan, kini mulai lebih lahap. Perubahan kecil itu diikuti dengan peningkatan berat badan.
“Sekarang jadi lebih semangat makan. Berat badannya juga naik,” tuturnya.
Percakapan tentang makanan pun menjadi bagian dari keseharian mereka. Apa yang dimasak di dapur, dan apa yang diterima di sekolah, saling bertemu dalam cerita sederhana di rumah.
“Kita suka sharing, dia dapat apa, di sini bikin apa,” katanya sambil tersenyum.
Di dapur SPPG, Prima bekerja bersama satu asisten khusus bagian nasi. Mereka berbagi peran, dari menyiapkan bahan hingga memastikan rasa tetap konsisten. Beberapa menu bahkan menjadi favorit anak-anak.
“Kalau di sini, nasi daun jeruk sama hainan itu pasti habis,” ujarnya.
Selain menghadirkan manfaat bagi penerima program, MBG juga memberikan stabilitas baru dalam kehidupan Prima. Jika sebelumnya jam kerja di sektor perhotelan tidak menentu, kini ia memiliki ritme kerja yang lebih pasti.
“Kalau di sini alhamdulillah kerja tiap hari. Jadi sangat membantu secara ekonomi,” katanya.
Lebih jauh, ia melihat program ini sebagai jawaban atas kebutuhan gizi yang selama ini belum merata, terutama bagi kelompok rentan.
“Di kampung, belum tentu ibu hamil bisa makan buah atau susu secara rutin. Dengan adanya MBG, kebutuhan gizi mereka jadi terbantu,” jelasnya.
Ia pun berharap program ini dapat terus diperluas, agar manfaatnya menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
“Harapannya bisa lebih menyeluruh. Yang di posyandu juga bisa merasakan,” ujarnya.
Di tengah panas dapur dan ratusan kilogram beras yang diolah setiap hari, Prima menjalankan perannya dengan satu kesadaran sederhana: bahwa pekerjaannya bukan sekadar memasak.
Di setiap butir nasi yang ia siapkan, tersimpan lebih dari sekadar makanan, ada tanggung jawab, ada harapan, dan ada kontribusi kecil untuk masa depan generasi yang sedang tumbuh.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional
(Red)













